Kuliner Unik dan “Ekstrim” di Raja Ampat, Papua Barat

Traveller mana yang tidak kenal dengan “raja”-nya objek wisata bahari. Terletak di Papua Barat, Kabupaten Raja Ampat merupakan sebuah gugusan kepulauan yang menawarkan berbagai pesona alam serta kekayaan flora dan fauna. Baik keempat pulau besarnya, yaitu Waigeo, Misool, Salawati, dan Batanta, serta pulau-pulau di sekitarnya penuh dengan spot wisata favorit, terutama untuk snorkeling dan diving. Pasti Anda sudah familiar dengan snorkeling di Waiwo, diving di Manta Sandy, mengeksplorasi Gua Telapak Tangan di Misool, atau mengagumi keindahan Telaga Bintang Pianemo. Bukan hanya kekayaan alamnya yang patut diacungi jempol, tetapi juga kulinernya. Sangat disayangkan ketika Anda tidak memasukkan wisata kuliner dalam to-do list Anda karena banyak pilihan yang unik dan mungkin membuat Anda terheran-heran. Kini saatnya lidah Anda “bereksperimen” dengan mencoba sajian-sajian berikut. Insonem atau Cacing Laut Jangan bayangkan cacing di tanah atau lumpur yang menjijikkan karena insonem jauh dari kesan kotor. Cacing ini banyak ditemukan di pasir putih timbul, yaitu pasir yang hanya muncul ketika laut surut. Warnanya pun putih dengan panjang badan sekitar 30-40 cm. Insonem berasal dari wilayah Raja Ampat bagian utara dan sudah menjadi camilan sehari-hari penduduk Kepulauan Ayau. Tidak perlu khawatir akan sulit menemukannya karena penduduk Kepulauan Ayau biasa membawanya ke pusat kota untuk dijual. Anda pasti penasaran bagaimana cacing ini diolah menjadi makanan yang lezat. Proses pertama adalah pembersihan dengan membelah bagian tubuh insonem untuk mengeluarkan pasir yang ada di dalamnya, lalu membilasnya hingga bersih. Setelah itu, insonem dipanggang menggunakan serabut dan tempurung kelapa serta sedikit kayu bakar. Proses pemanggangan ini dinamakan “asar”. Warna cacing yang sudah matang akan berubah menjadi kecokelatan. Ketika sudah matang, cacing tersebut tidak terlihat seperti cacing, tetapi lebih mirip kentang. Teksturnya kenyal dan agak alot seperti gurita. Insonem bisa disajikan dengan sayuran, atau diasap lebih lama supaya menjadi keripik. Bumbunya juga berbagai macam, termasuk bumbu rica-rica. Harga 1 porsi insonem ini berkisar Rp 10.000-25.000. Ulat Sagu Dari cacing beralih ke ulat. Wisata kuliner di Raja Ampat memang terkesan tidak lazim, jadi selain kenyang, Anda pun akan pulang dengan banyak pengalaman baru. Sebenarnya ulat sagu tidak hanya ditemukan di Raja Ampat, melainkan di seantero Papua Barat. Ulat ini merupakan larva kumbang merah yang suka mendiami pohon sagu yang sudah ditebang, atau sudah diambil sagunya. Tubuhnya berwarna putih dan berukuran kira-kira sebesar ibu jari orang dewasa. Ulat sagu umumnya diolah dengan cara dibakar seperti sate. Teksturnya ketika sudah matang mirip dengan sosis bakar. Ulat yang sudah dibakar pun bisa dimasak lagi dengan berbagai macam bumbu, seperti rica-rica atau balado, bahkan bisa juga dibuat pepes. Namun jangan heran karena masyarakat Papua sendiri juga suka menyantap ulat sagu mentah-mentah. Konon rasanya manis campur gurih saat mentah, dan ketika digigit ada cairan manis yang keluar dari perutnya. Mungkin Anda masih merasa mual ketika membayangkannya. Jangan salah, ulat sagu ini merupakan alternatif lauk yang bebas kolesterol. Kandungan gizinya pun baik karena kaya akan protein serta asam amino esensial seperti asam aspartat, asam glutamat, tirosin, lisin, dan methionin. Siapkah Anda mencoba makanan “ekstrim” namun bergizi ini? Papeda dan Ikan Kuah Kuning Kali ini pilihan kulinernya tidak se-ekstrim cacing maupun ulat, tetapi Anda yang baru pertama kali mendengar tentang papeda pasti berpikir dua kali untuk menyantapnya ketika tahu bahwa teksturnya seperti lem. Seperti ulat sagu, papeda tidak hanya ada di Raja Ampat tetapi juga di seluruh Papua dan Maluku. Namun uniknya, papeda yang dijual di Raja Ampat pasti ditemani dengan ikan kuah kuning. Papeda sendiri adalah bubur sagu bertekstur lengket. Cara membuatnya sederhana, yakni dengan mencampur air mendidih dengan tepung sagu. Karena rasanya hambar, biasanya dicampur dengan lauk pauk dan sayuran, sama seperti ketika kita makan nasi. Sementara itu, ikan kuah kuning adalah masakan berbahan dasar ikan cakalang, tuna, gabus, mubara, atau tongkol. Kuahnya terbuat dari campuran kunyit, daun bawang, kemangi, sereh, tomat, air jeruk nipis, jahe, bawang putih, dan cabai rawit bila suka pedas. Kuah ini memiliki rasa gurih dan asam segar. Papeda plus ikan kuah kuning ini banyak dijual di Waisai, Pulau Waigeo. Biasanya semangkuk papeda dan ikan kuah kuning dipatok harga Rp 25.000-30.000. Merasa tertantang untuk mencoba kuliner-kuliner tersebut? Para traveller dan foodie sejati pasti akan tergugah seleranya ketika mendengar pilihan-pilihan masakan yang juga menantang nyali. Segera rencanakan perjalanan Anda dan dapatkan promo tiket pesawat dan penginapan di sini. /TON

Sumber: BeritaSatu